“Ya Allah, Jadikanlah Negeri Ini Aman”
Doa ini berasal dari Nabi Ibrahim Alaihis salam, sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah (126): “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri) ini negeri yang aman…'”. Di sini digunakan kata “baladan” (bentuk umum / nakirah, tanpa ‘al’) karena saat itu Makkah belum menjadi kota yang berpenduduk.
Sedangkan dalam surah Ibrahim (35): “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa, ‘Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini aman…'”. Di sini beliau menggunakan kata “Al-Balad” (bentuk khusus/Makrifat, dengan ‘al’) karena Makkah sudah menjadi kota yang stabil. Doa ini mencakup keamanan, stabilitas, ketahanan pangan, serta perlindungan dari rasa takut dan lapar bagi penduduknya, subur dan makmur. Allah mengabulkan doa tersebut dengan menjadikan Makkah tanah suci yang aman, di mana segala jenis buah-buahan didatangkan ke sana.
Ini adalah doa yang agung, disunnahkan untuk digunakan bagi negeri muslim mana pun. Maka, sudah sepatutnya kita memohon kepada Allah Yang Maha Mulia untuk negeri kita, Indonesia: “Ya Allah, jadikanlah negeri ini [Indonesia] dan seluruh negeri kaum muslimin aman, tenteram, subur, dan makmur. Ya Allah, jagalah negara kami Indonesia, baik pemimpin maupun rakyatnya. Kekalkanlah nikmat keamanan dan stabilitas dari segala fitnah yang tampak maupun yang tersembunyi, dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Penyayang.”
Di sisi lain, kita melihat realitas pemimpin dan rakyat di negara kita saat ini—seperti pepatah mengatakan: “Rakyat mengikuti agama (perilaku) pemimpinnya.” Artinya, secara sosial dan historis, rakyat cenderung terpengaruh dan mengikuti kebiasaan serta budaya penguasanya. Hal ini selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
‘Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun dan tidak pula mengangkat seorang khalifah
(pemimpin) melainkan ia pasti memiliki dua jenis bithonah (penasehat pribadi yang bisa mempengaruhi kebijakan): satu bithonah yang memerintahkannya kepada kebaikan dan mendorongnya untuk mewujudkannya, dan satu bithonah lagi yang memerintahkannya kepada keburukan dan mendorongnya untuk melakukannya. Maka, orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah.’ [Nomor hadits: 7198].”
Hadits ini menjelaskan tentang keniscayaan keberadaan dua jenis bithanah bagi setiap penguasa maupun nabi. Salah satunya mendorong kepada kebaikan dan yang lainnya mendorong kepada keburukan. Adapun orang yang terjaga adalah ia yang dilindungi oleh Allah dari pengaruh bithanah yang buruk.
Pada bagian akhir hadits, terdapat isyarat mengenai keselamatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hal tersebut, yaitu pada sabda beliau: ‘Maka orang yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala’.
Makna hadits ini sejalan dengan apa yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i [nomor 4204]: ‘Barangsiapa di antara kalian yang diserahi suatu urusan (pekerjaan/jabatan), lalu Allah menghendaki kebaikan baginya, maka Allah akan menjadikan baginya seorang wazir (pembantu/menteri) yang saleh; jika ia lupa, sang wazir akan mengingatkannya, dan jika ia ingat, sang wazir akan membantunya’.”
Rasulullah SAW juga bersabda: “Seseorang itu tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa yang dijadikan teman.” (HR. Abu Dawud No 4833). Ini merupakan arahan kenabian bagi setiap mukmin agar bersikap hati-hati dan meneliti secara saksama siapa yang akan ia jadikan sebagai teman dekatnya. Hendaklah ia memilih orang-orang yang memiliki kebaikan serta kesalehan, dan memilih seseorang yang darinya terpancar amal-amal yang baik serta rekam jejak (sirah) yang terpuji. Telah dikatakan dalam pepatah: (Seorang teman itu menarik/menyeret); Tentang diri seseorang, janganlah engkau bertanya (kepadanya), namun tanyalah siapa teman karibnya… karena setiap teman akan mengikuti (meniru) orang yang ditemaninya.”
Selanjutnya, bukti-bukti sejarah amatlah banyak pada setiap era dan bangsa. Tidaklah kaum muslimin tertimpa musibah (terpuruk) dari segala sisi mereka, melainkan disebabkan oleh tindakan mereka sendiri yang mendekatkan bithanah jahat serta orang-orang buruk. Mereka juga menyerahkan urusan-urusan kepada orangorang yang tidak amanah dan tidak jujur, sembari menjauhkan orang-orang saleh yang kompeten (ahli) hingga martabat dan kemaslahatan orang-orang baik tersebut tidak lagi dianggap/disepelekan.
Sejak dulu kala, lingkaran penasihat yang buruk selalu menjadi malapetaka bagi para penguasa, khalifah, dan bangsa-bangsa. Keberadaan mereka juga menjadi siksaan (beban berat) bagi orang-orang saleh yang memiliki kemampuan mumpuni dalam mengelola perkara dan mengurus berbagai urusan—hanya kepada Allah-lah kita memohon perlindungan.” Wahai Dzat yang Maha Merubah segala keadaan, ubahlah keadaan kami pada keadaan yang paling baik sekaligus kondisi jiwa yang paling tenang. Wahai Dzat yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi. Kabulkanlah, wahai yang maha mengatur semesta alam.”